Featured Video

Jam

Rabu, 05 Oktober 2011

LAPORAN PRAKTIKUM FARFIS KELARUTAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan percobaan

Adapun tujuan dalam percobaan ini adalah:
- Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif
- Menjelaskan pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat
- Menjelaskan pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat
- Menentukan konsentrasi misel kritik suatu surfaktan dengan metode kelarutan
- Menentukan grafik dari pengaruh-pengaruh yang berpengaruh terhadap kelarutan

1.2 Dasar teori

Secara kuantitatif,kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai suatu konsentrasi zat terlarut di dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Kelarutan dinyatakan dalam satuan mililiter pelarut yang dapat melarutkan satu gram zat. Misalnya 1 gr asam salisilat akan larut dalam 550 ml air. Suatu kelarutan juga dapat dinyatakan dalam satuan molalitas, molaritas dan persen.
Pelepasan zat aktif dari suatu bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain :
- pH
- temperatur
- jenis pelarut
- bentuk dan ukuran partikel zat
- konstanta dielektrik pelarut
- adanya zat-zat lain, misalnya surfaktan pembentuk kompleks, ion sejenis dll.

1. Pengaruh pH

Zat aktif yang sering digunakan di dalam dunia pengobatan umumnya adalah Zat organik yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Kelarutan asam-asam organik lemah seperti barbiturat dan sulfonamida dalam air akan bertambah dengan naiknya pH karena terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa organik lemah seperti alkoholida dan anastetika lokal pada umumnya sukar larut dalam air. Bila pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air.
Hubungan antara pH dengan kelarutan asam dan basa lemah digambarkan oleh persamaan sebagai berikut :

Untuk asam lemah :
pHp = pKw + log S-So/So

Untuk basa lemah :
pHp = pKw - pKb + log S – So/So

Keterangan :
pHp = harga pH terendah/tertinggi dimana zat yang berbentuk asam atau basa lemah masih dapat larut.
S = Konsentrasi molar zat dalam yang ditambahkan
So = Kelarutan molar fraksi asam atau basa yang tidak terdisosiasi

2. Pengaruh temperatur (suhu)

Kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung kepada temperatur, titik leleh zat padat dan panas peleburan molar zat tersebut. Kelarutan suatu zat padat dalam air akan semakin tinggi bila suhunya dinaikan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut. Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air. Berbeda dengan zat padat, adannya pengaruh kenaikan suhu akan menyebabkan kelarutan gas dalam air berkurang. Hal ini disebabkan karena gas yang terlarut di dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu meningkat.

3. Pengaruh jenis pelarut

Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar dan ionik, begitu pula sebaliknya. Kelarutan juga bergantung pada struktur zat, seperti perbandingan gugus polar dan non polar dari suatu molekul. Makin panjang rantai gugus non polar suatu zat, makin sukar zat tersebut larut dalam air.
Menurut Hilderbrane : kemampuan zat terlarut untuk membentuk ikatan hidrogen lebih pentig dari pada kemolaran suatu zat.
Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mudah larut dalam senyawa polar. Misalnya gula, NaCl, alkohol, dan semua asam merupakan senyawa polar sehingga mudah larut dalam air yang juga merupakan senyawa polar.
Sedangkan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam senyawa nonpolar, misalnya lemak mudah larut dalam minyak. Senyawa nonpolar umumnya tidak larut dalam senyawa polar, misalnya NaCl tidak larut dalam minyak tanah.
Pelarut polar bertindak sebagai pelarut dengan mekanisme sebagai berikut :
- Mengurangi gaya tarik antara ion yang berlawanan dalam Kristal.
- Memecah ikatan kovalen elektrolit-elektrolit kuat, karena pelarut ini bersifat amfiprotik.
- Membentuk ikatan hidrogen dengan zat terlarut.

Pelarut non polar tidak dapat mengurangi daya tarik-menarik antara ion-ion karena konstanta dielektiknya yang rendah. Iapun tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan tidak dapat membentuk jembatan hidrogen. Pelarut ini dapat melarutkan zat-zat non polar dengan tekanan internal yang sama melalui induksi antara aksi dipol. Pelarut semi polar dapat menginduksi tingkat kepolaran molekul-molekul pelarut non polar. Ia bertindak sebagai perantara (Intermediete Solvent) untuk mencampurkan pelarut non polar dengan non polar.

4. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel

Kelarutan suatu zat akan naik dengan berkurangnya ukuran partikel suatu zat, sesuai dengan persamaan berikut :

Log S/So = 2 v/2,303 RTr
Keterangan :
S = kelarutan dari partikel halus
So = kelarutan zat padat yang ukuran partikelnya lebih besar
r = Tegangan permukaan partikel zat padat
v = volume partikel dalam cm2 per mol
R = jari-jari akhir partikel dalam cm2
T = temperatur absolut

Konfigurasi molekul dan bentuk susunan kristal juga berpengaruh terhadap kelarutan zat. Partikel yang bentuknya tidak simetris lebih mudah larut bila dibandingkan dengan partikel yang bentuknya simetris.

5. Pengaruh konstanta dielektrik

Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dapat melarutkan zat-zat non polar sukar larut di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Besarnya tetapan dielektrik ini menurut moore dapat diatur dengan penambahan pelarut lain. Tetapan dielektrik suatu campuran pelarut merupakan hasil penjumlahan dari tetapan dielektrik masing-masing yang sudah dikalikan dengan % volume masing-masing komponen pelarut.
Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan pelarut tunggalny. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency dan pelarut yang mana dalam bentuk campuran dapat menaikkan kelarutan suatu zat diseut co-solvent. Etanol, gliserin dan propilen glikol adalah co-solvent yang umum digunakan dalam bidang farmasi untuk pembuatan eliksir.

6. Pengaruh penambahan zat-zat lain

Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikan kelarutan suatu zat. Molekul surfaktan terdiri atas dua bagian yaitu bagian polar dan non polar.apabila didispersikan dalam air pada konsentrasi yang rendah, akan berkumpul pada permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah air dan bagian non polar kearah udara, surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat yang dikenal sebagai misel. Konsentrasi pada saat misel mulai terbentuk disebut konsentrasi misel kritik (KMK).
BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan

Alat :
- Mixer
- Buret
- Erlenmeyer
- Labu ukur
- Corong
- Breaker glass
- Pipet tetes
- Pipet gondok
- Cawan

Bahan :
- Air
- Asetosal
- Propilen glikol
- Asetosal
- Tween 80
- Asam benzoate
- NaOH
- Indikator fenolftalein p
- Kertas saring

2.2 Cara kerja

1. Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat

- Dibuat campuran pelarut-pelarut seperti yang tertera pada tabel di bawah ini :

Air (% v/v) Alkohol (% v/v) Propilen glikol (% v/v)
60 0 40
60 5 35
60 10 30
60 15 25
60 20 20
60 25 15
60 30 10
60 35 5
60 40 0

- Dilarutkan asetosal sedikit demi sedikit dalam masing-masing campuran pelarut sampai didapat larutan yang jenuh.
- Dikocok larutan dengan mixer selama 30 menit, jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lai asetosal sampai didapat larutan yang jenuh kembali
- Disaring larutan. Tentukan kadar asetosal yang larut dengan cara titrasi asam basa
- Dibuat grafik antara kelarutan asetosal dengan % pelarut yang ditambahkan

2. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat

- Dibuat 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi : 0; 0,1; 0,5; 1; 5; 10; 50; dan 100 mg/100 ml air
- Ditambahkan asam benzoat sedikit demi sedikit sampai diperoleh larutan yang jernih
- Dikocok larutan selama 30 menit dengan mixer. Kalau ada endapan yang larut selama pengocokan, tambahkan lagi asam benzoat sampai didapat larutan yang jenuh kembali
- Disaring dan tentukan kadar asam benzoat yang terlarut dalam masing-masing larutan
- Dibuat grafik antara kelarutan asam benzoat dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan
- Ditentukan konsentrasi isel kritik tween 80

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
a) Pengaruh pelarut campuran terhadap kelarutan zat
Air (% v/v) Alkohol (% v/v) Propilen glikol (% v/v) V NaOH (1) V NaOH (2) Rata-rata Kadar (mg=18,02) Kadar (g)
60 0 40 12,3 12,3 12,3 221,646 0,2216
60 5 35 10,5 10,3 10,4 187,408 0,1874
60 10 30 10,1 9,9 10 180,2 0,1802
60 15 25 9,2 9,4 9,3 167,586 0,1675
60 20 20 9,9 10,3 10,1 182,002 0,1820
60 25 15 9,2 9,3 9,25 166,685 0,1666
60 30 10 9,6 9,5 9,55 172,091 0,1720
60 35 5 9,5 9,6 9,55 172,091 0,1720
60 40 0 9,5 9,5 9,5 171,19 0,1711

Penentuan kadar asetosal (mg)

- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 12,3 x 18,02
= 221,646 mg

- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 10,4 x 18,02
= 187,408 mg

- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 10 x 18,02
= 180,2 mg

- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 9,3 x 18,02
= 167,586 mg

- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 10,1 x 18,02
= 182,002 mg

- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 9,25 x 18,02
= 166,685 mg

- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 9,55 x 18,02
= 172,091 mg


- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 9,55 x 18,02
= 172,091 mg

- Kadar asetosal (mg) = v NaOH x mg asetosal
= 9,5 x 18,02
= 171,19 mg

Penentuan kadar asetosal (gr)

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 221,646
1000
= 0,2216 gr

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 187,408
1000
= 0,1874 gr

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 180,2
1000
= 0,1802 gr

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 167,586
1000
= 0,1675 gr

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 182,002
1000
= 0,1820 gr

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 166,685
1000
= 0,1666 gr

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 172,091
1000
= 0,1720 gr

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 172,091
1000
= 0,1720 gr

- Kadar asetosal (gr) = Kadar asetosal (mg)
1000
= 171,19
1000
= 0,1711 gr

b) Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat
Konsentrasi V NaOH (1) V NaOH (2) Rata-rata Kadar (mg = 12,21) Kadar (g)
100 4,6 4,3 4,45 54,3345 0,0543345
50 3,9 3,8 3,85 46,6422 0,0466422
10 3,6 3,5 3,55 43,3455 0,0433453
5 3,1 3,6 3,35 40,9035 0,0409035
1 3,1 2,9 3 36,63 0,03663
0,5 3,0 3,3 3,15 38,4615 0,0384615
0,1 2,9 2,7 2,8 34,188 0,034188
0 2,5 2,9 2,7 32,967 0,032967

Penentuan kadar asam benzoat (mg)

- Kadar asam benzoat (mg) = v NaOH x mg asam benzoat
= 4,45 x 12,21
= 54,3345 mg

- Kadar asam benzoat (mg) = v NaOH x mg asam benzoat
= 3,85 x 12,21
= 46,6422 mg

- Kadar asam benzoat (mg) = v NaOH x mg asam benzoat
= 3,55 x 12,21
= 43,3455 mg



- Kadar asam benzoat (mg) = v NaOH x mg asam benzoat
= 3,35 x 12,21
= 40,9035 mg

- Kadar asam benzoat (mg) = v NaOH x mg asam benzoat
= 3 x 12,21
= 36,63 mg

- Kadar asam benzoat (mg) = v NaOH x mg asam benzoat
= 3,15 x 12,21
= 38,4615 mg

- Kadar asam benzoat (mg) = v NaOH x mg asam benzoat
= 2,8 x 12,21
= 34,188 mg

- Kadar asam benzoat (mg) = v NaOH x mg asam benzoat
= 2,7 x 12,21
= 32,967 mg

Penentuan kadar asam benzoat (gr)

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 54,3345
1000
= 0,0543345 gr

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 46,6422
1000
= 0,0466422 gr

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 43,3455
1000
= 0,0433455 gr

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 40,9035
1000
= 0,0409035 gr

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 36,63
1000
= 0,03663 gr

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 38,4615
1000
= 0,0384615gr

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 38,4615
1000
= 0,0384615 gr

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 34,188
1000
= 0,034188 gr

- Kadar asam benzoat (gr) = Kadar asam benzoat (mg)
1000
= 32,967
1000
= 0,032967 gr

















3.2 Pembahasan

Elektrolit dapat bersifat seperti elektrolit kuat dan seperti non elektrolit dalam larutan. Apabilalarutan berada pada pH di mana obat seluruhnya berbentuk ion, maka larutan tersebut berbentuk ion, maka larutan tersebut bersifat sebagai larutan elektrolit kuat dan kelarutan tidak merupakan masalah yang serius. Tetapi, apabila pH disesuaikan pada harga pH di mana molekul tidak terdisosiasi diproduksi dalam konsentrasi yang cukup untuk mencapai kelarutan dalam bentuk ini, terjadilah pengendapan.
Dalam pembicaraan ini, sekarang kita tertarik akan kelarutan non elektrolit dan molekul elektrolit lemah yang tidak terdisosiasi. Seringkali zat terlarut lebih lebih larut dalam campuran pelarut daripada dalam satu pelarut saja. Gejala ini dikenal dengan melarut bersama (cosolvency), dan pelarut yang dalam kombinasi menaikkan kelatutan zat disebut cosolvent. Cairan propelien glikol memiliki sifat yang lebih kental cairannya dibandingkan air dan alkohol. Pada saat pencampuran ketiga cairan, propilen glikol tidak bisa cepat larut dalam air jadi harus diperlukan bantuan pengocokan untuk menghomogenkan ketiga campuran tersebut, setelah itu masing-masing cairan yang telah dibuat dengan kadar yang berbeda-beda dimasukan asetosal sedikit demi sedikit karena bentuk asetosal merupakan serbukan jadi diperlukan mixer untuk menjenuhkan asetosal tersebut dalam cairan campuran, kocok selama 30 menit apabila ada endapan yang larut tabahkan kemnbali asetosal sampai didapt larutan yang benar-benar jenuh. Setelah itu saring dan lakukan titrasi dari hasil yang kami dapat campuran antara air dan propilen glikol akan didapat kadar asetosal yang lebih tinggi dibandingkan apabila dibandingakan dengan campuran antara air, alkohol dan propilen gliko tetapi kadar propilen glikol lebih sedikit dibandingkan dengan kadar kedua cairan lainnya.
Pada percobaan yang kedua yaitu tentang pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat, petama kita menimbang tween 80 sebanyak 0,1 gram atau 3 tetes ketika dicampur menggunakan cairan lain berupa air tween tersebut tidak akan cepat larut dalam air sehingga diperlukan pengocokan untuk mendapatkan larutan yang homogen, setelah air dan tween 80 benar-benar homogen bagi larutan tersebut kesebuah labu ukur debgan konsentrasi yang telah ditetapkan, lakukan hal yang sama seperti pada percobaan pertama tentang pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan suatu zat yaitu pengocokan menggunakan mixer tetapi kita tidak lagi menggunakan asetosal melainkan asam benzoat.
Setelah dirasa ada endapan asam benzoat yang larut maka tambahkan lagi asam benzoat sampai larutan benar-benar jenuh setelah itu pipet dan lakukan titrasi semakin tinggi konsentrasi maka semakin besar pula kadar asam benzoat yang terdapat dalam larutan tersebut begitu pula sebaliknya semakin kecil konsentrasi maka akan semakin kecil pula kadar asam benzoat yang terkandung dalam larutan tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengaruh pelarut dan penambahan surfaktan sangat berpengaruh terhadap kelarutan suatu zat
















Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar